Langsung ke konten utama

MANUSIA, MASYARAKAT, DAN HUKUM

duka palu dan donggala


Nama Muawiyah
Nim 1702140003
Prodi Hukum Tata Negara

Mengapa Di Negeriku Terjadi Bencana
(Duka Palu Dan Donggala)
Indonesia kembali berduka, belum kering air mata karena gempa dilombok Indonesia harus menangis lagi. Tragedi alam yang terjadi di palu dan donggala yang baru-baru ini terjadi membuka kembali kenangan pahit masa lalu yang di alami bangsa ini pada tahun 2004 silam lalu di Aceh, seluruh rakyat Indonesia menangis.
Duka Palu dan Donggala adalah penderitaan, tanggisan, duka kita semua bangsa Indonesia. Ketika melihat wajah duka korban disaat itulah kita menyadari, merasakan bahwa yang berduka adalah diri kita sendiri karena itu fitrah alamiah manusia. K.H. Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa A’a Gym dalam kesempatannya di acara ILC TV ONE pada Selasa 2 Oktober kemarin mengatakan “ini adalah ujian kemanusian kita, dengan mendengar banyaknya cerita ini menggukur hati kita tersentuh, tergugah atau tidak, kalau sampai mendengar penderitaan ini kita tidak tergugah berarti kita wujudnya manusia tapi sudah tidak punya hati nurani”.
Belum kering tanggisan Palu dan Donggala kita mencari-cari kesalahan penyebab terjadinya bencana tersebut, di tengah keadaan seperti ini kita seharusnya membantu mereka bukan malah menambahkan penderitaan mereka dengan menyangkut-pautkan bencana ini dengan mengatakan bahwa bencana ini merupakan azab karena tidak menghormati atau diskriminalisasi ulama (lagi hangat nya isu tersebut di medsos) .
Indonesia negara yang berdasar pancasila dan dengan konsep negara hukum sebagaimana yang tertuang dalam UUD 1945 yang dibuat melalui proses perdebatan panjang oleh founding fathers. Kita tinggal di negara yang mengagungkan kemanusian yang adil dan beradab. Seharusnya dengan adanya kejadian ini malah menjadi ajang untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa jangan mengambil keuntungan atau menyebar fitnah/ berita-berita hoaks.
Mari kita renungkan perkataan dari K.H. Ahmad Dahlan “apabila para pemimpin-pemimpin negara dan para ulama itu baik maka baiklah alam dan apabila pemimpin-pemimpin negara dan para ulama itu rusak maka rusaklah alam, masyarakat, negara”. Merenunggi dari perkataan tersebut kita seharusnya merubah diri kita dulu, kita harus menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri atau negara dan atau para ulama menjadi pemimpin dan atau ulama yang baik dan amanah. Apalagi kita akan dihadapkan pada tahun politik (pemilu pilpres), jangan jadikan kejadian ini untuk ajang mengambil simpati rakyat, saling menjatuhkan antar pihak mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Mari jadikan tahun politik ini untuk ajang berlomba-lomba dalam kebaikan, jangan menuhankan politik, jaga moral etika politik, jaga ukhwah persaudaran kita. Insyaallah jika kita berusaha menjadi pribadi yang baik, mudah bagi Allah untuk menggangkat bencana ini dari negeri kita.


Komentar